Sunday, May 4, 2008

Mengapa Kita Mesti Hanya Mengabdi Kepada-Nya

MENGAPA KITA MESTI MENGABDI
HANYA KEPADA-NYA?
Oleh : Mukhlisin

Manusia modern sekarang ini mengalami apa yang di sebut oleh Sayyed Hosein Nars sebagai teralienasi dari dirinya yang sejati atau tercerabut dari jagat kemanusiaannya. Hal ini disebabkan manusia modern terjebak pada ”penghambaan” terhadap sesuatu yang bersifat materi. Mereka sudah seperti mesin yang dieksploitasi untuk sebanyak-banyak mengumpulkan materi. Hidup mereka diisi oleh rutinitas tanpa makna. Akibatnya manusia modern mengalami kelelahan, baik bersifat fisik, psikis, maupun spiritual.
Manusia mengalami alienasi (keterasingan) dari dirinya sendiri yang sejati juga disebabkan oleh karena apa yang mereka lakukan bukan karena memang mereka mau melakukannya, tetapi lebih karena memenuhi keinginan orang-orang sekitarnya. Akibatnya manusia membutuhkan begitu banyak ‘topeng’ guna memuaskan keinginan orang lain tersebut. Padahal keinginan masing-masing orang berbeda-beda dan tidak akan pernah ada habisnya. Pepatah Arab mengatakan Ridhan naas ghayatun laa tudrak ( mendapatkan ridha manusia merupakan tujuan yang mustahil). Menyenangkan semua orang merupakan sesuatu yang mustahil kita lakukan. Bukankah Ibn `Arabi sudah memperingatkan kita : “ Serahkan dan tujukan semua aktivitasmu kepada Allah (ikhlas hanya karena Allah dalam semua aktivitas kita), maka kamu akan bisa beristirahat dengan tenang”.
“Kehampaan mengisi dada kebanyakan manusia modern,” tutur Dr Rollo May, seorang psikoanalisis, saat melaporkan hasil eksperimen praktik kliniknya Di New York. May menyebutkan dari daftar pasien yang mendatanginya hampir sebagian besar mengidap penyakit kehampaan dan kekosongan batin. Apa yang dilaporkan May itu ternyata telah menjadi penyakit kronis yang masih belum dapat disembuhkan sampai dewasa ini.
Mensikapi kondisi di atas, kiranya kita –sebagai bagian dari manusia modern—sudah waktunya untuk menarik diri sejenak dari hiruk pikuk keramaian dunia modern guna melakukan refleksi dan muhasabah atas hakikat kehidupan. Ada pertanyaan paling hakiki yang mesti kita lontarkan (dalam refleksi dan muhasahah tersebut) kepada diri kita sendiri yaitu : ”untuk apa sesungguhnya kita diciptakan? kepada siapakah sesungguhnya kita mengabdikan seluruh aktifitas hidup? Dan mau kemanakah sesungguhnya kita akan pergi?


Hidup Untuk Mengabdi Kepada-Nya
Untuk pertanyaan untuk apa sesungguhnya kita diciptakan, Allah menjawab dengan firman-Nya, “Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (dan mengabdi) kepada-Ku” (Adz-Dzariat 51: 56). Status sejati manusia di dunia adalah ’`abdillah’, hamba Allah. Hakikat pengabdian adalah ketika seseorang bisa mengubah peran dirinya menjadi peran ’abdillah”. Sejak lahir, seseorang akan menemukan diri sebagai anak bumi : orang Jawa, orang Sunda, orang Cina, orang Amerika, penduduk bumi, dan lainnya. Temukanlah dirimu bukan lagi sebagai orang Jawa, Sunda, Cina, atau Amerika, melainkan sebagai hamba Allah. Katakanlah terus-menerus (dalam shalat) iyyaka na’budu (hanya kepada-Mu kami mengabdi), niscaya akan tumbuh kesadaran untuk mengabdi sebagai `abdun (hamba, pesuruh) Allah.
Dengan menemukan diri sebagai hamba Allah, seseorang akan menemukan orang lain juga sebagai hamba Allah. Dengan demikian, hubungan seseorang dengan orang lain menjadi utuh, kita adalah satu : sama-sama tercipta atas qudrah (kuasa) dan iradah (kehendak) –Nya.
Dengan menemukan status sejati sebagai hamba Allah, tugas manusia adalah bagaikan seorang pembantu yang harus melayani tuannya. Semakin baik kita melayani Allah, termasuk juga melayani dan membantu hamba-hamba Allah yang mengalami kesempitan, kesusahan, dan kekurangan, semakin baik pula kita sebagai hamba Allah.[1] Ibadah atau mengabdi kepada-Nya merupakan satu-satunya cara manusia memenuhi tujuan penciptaan dan eksistensinya.
Selain itu, karena manusia diciptakan di dunia ini hanya untuk beribadah atau mengabdi kepada-Nya, maka manusia hendaklah menjadikan semua aktivitas hidupnya sebagai ibadah dan ekspresi pengabdian kepada-Nya. Tidak hanya salat, puasa, zakat, dan haji saja, yang merupakan ibadah mahdhah (ibadah yang sudah ditentukan aturan dan tata caranya), tetapi juga pekerjaan kita di kantor, di partai politik, di bidang perdagangan, jabatan kita, memakmurkan masjid, mencari nafkah, mengurus anak dan keluarga, bahkan ucapan yang baik, senyum, dan tidur kita pun harus di jadikan ibadah.
Adapun cara untuk menjadikan semua aktivitas manusia bernilai sebagai bentuk penghambaan atau ibadah kepada Allah adalah dengan membaca basmalah setiap kita akan memulai setiap aktivitas. Dengan Basmalah, kita memberi sentuhan ketuhanan dan keberkahan pada perbuatan yang akan kita lakukan. Dengan membaca Bismillahirrahman nir rahim, berarti meminta izin, memohon kekuatan, dan meminta bimbingan Allah sekaligus komitmen untuk membawa nama Allah Yang Maha Penyayang dan Pengasih dan menghadirkan-Nya dalam setiap aktivitas kehidupan. Dan orang yang selalu menghadirkan Allah dalam setiap aktivitasnya, maka akan menjaga agar semua aktivitasnya , dalam bentuk apa pun, agar sesuai dengan ajaran Allah.

Mengapa Kita Mesti Mengabdi Hanya Kepada-Nya?

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah 2 : 21)

Kandungan Surat Al-Baqarah ayat 21 ini Allah memerintahkan keseluruhan manusia, tanpa kecuali, bahwa mereka hanya boleh mengabdikan hidup mereka di dunia ini hanya kepada Allah, Rabb `alamiin, yang telah menciptakan, memelihara, mendidik, dan menyempurnakan manusia serta memenuhi segala keperluan dan perangkat agar tercapainya sebuah hakikat pengabdian. Keperluan dan perangkat tersebut meliputi potensi yang ada pada diri mereka yaitu bentuk fisik yang sempurna, akal, nafs, qalbu atau hati dan ruh, maupun perangkat yang ada di luar diri manusia yang berupa bumi dan langit dan segala yang ada di antara keduanya, yang kesemuanya memang Allah telah sediakan dan tundukkan buat “melayani” dan “memungkinkan” manusia bisa secara maksimal melakukan pengabdian (baca : ibadah).
Muhammad Zuhri dalam bukunya Hidup Lebih Bermakna, memberikan tafsir yang menarik dan orisinil ketika menjelaskan makna Al-Hamdulillahi rabbil `alamin.
Beliau menulis, dalam melakukan manajerial terhadap alam semesta, Allah memberikan semua sarana yang dibutuhkan oleh umat manusia. Sarana itu berupa potensi yang ada di dalam diri maupun potensi yang ada di luar diri. Potensi di dalam diri berupa panca indra, akal pikiran, hati nurani, ketrampilan, dan sebagainya. Potensi di luar diri ialah alam struktural dengan segenap potensi yang ada di dalamnya. Kedua potensi tersebut jika diinteraksikan akan melahirkan ilmu pengetahuan yang sanggup mengungkapkan sumber daya alam untuk kesejahteraan umat manusia. Inilah sifat rahmaniyyah Allah yang diberikan kepada umat manusia.
Di samping melimpahkan potensi yang ada di dalam diri dan di luar diri (yang lahir dari sifat rahmaniyyah), Allah juga memberikan teknis atau cara mendayagunakan semua pemberiaan-Nya melalui sifat rahimiyyah. Dengan demikian, kita mendapatkan keefektifan yang lebih bernilai dalam menjangkau cita-cita tertinggi kita, yaitu menggapai ridha Allah yang berakhir dengan jannah al-na`im ( surga maha nikmat). Sebab jika sarana yang diberikan melalui sifat rahmaniyyah tidak disertai sifat rahiimiyyah, niscaya kita akan sesuka hati dalam mendayagunakan potensi-potensi itu. Akibatnya, kita bisa menjadi liar dan anarkis.
Di samping Allah memberikan semua sarana dan teknis pendayagunaan melalui sifat rahmaniyyah dan rahimiyyah, Allah juga melakukan pengawasan melalui sifat maalikiyyah. Dialah Raja yang mengawasi ketika seseorang menempuh hari-harinya sebagai “hari agama” (yaum al-din). “Hari agama” bukanlah hari akhirat atau hari pembalasan (yaum al-ba`ts). “ Hari agama” adalah hari-hari khusus yang dimiliki oleh orang-orang yang melakukan perjalanan kepada Tuhan. Hari-hari tersebut merupakan momen religi, hari-hari pendekatan kepada Tuhan—yang orang-orang kafir tidak memilikinya.
Dalam proses menempuh waktu, kita diawasi. Dialah raja yang memimpin dan mengawasi kita. Bahkan Dia tidak hanya sekedar mengawasi, tetapi juga memberikan penghargan, pahala, bonus (meluaskan rezeki, memberikan fadhilah, keutamaan) manakala kita dinilai baik dalam pengawasan-Nya. Sebaliknya, ketika Tuhan tidak berkenan, Dia tidak segan-segan memberikan peringatan, sangsi, bahkan pidana atau hukuman. Inilah maalikiyyah Allah.
Dengan demikian, Allah telah mengatur alam semesta ini dengan cara terbaik dan adil; memberikan sarana yang cukup (rahmaniyyah), memberikan teknis atau cara pendayagunaan sarana tersebut (rahiimiyyah), melakukan pengawasan, kontrol, bonus, dan sanksi (maalikiyyah). Ketiga hal itulah yang membuat Allah hamd (terpuji) dan karenanya pengabdian hanya layak ditujukan kepada-Nya.

Ibadah Bukan Untuk Kepentingan Allah
Perintah untuk hanya mengabdi kepada-Nya sama sekali bukanlah untuk keuntungan Allah, karena tanpa pengabdian dari makhluk-Nya pun keagungan-Nya telah ada dan akan terus melekat dengan-Nya selamanya. Pengabdian manusia hanya kepada-Nya tidak lain hanyalah demi kepentingan dan kemanfaatan manusia itu sendiri dan bukan untuk kepentingan Allah. Yaitu agar manusia bertaqwa (la`allakum tattaqun).
Taqwa berasal dari kata waqaa-yaqwi-wiqayatan wa taqwatan yang bermakna menjaga diri atau menjauhkan diri. Misalnya, ketika jalan yang ada di depan kita ada api atau ada kemacetan maka kita kemudian menghindar dari api dan kemacetan tersebut dengan cara mencari jalan lain, maka orang tersebut disebut melakukan “taqwa”. Makna menjaga diri ini bisa berarti dua hal. Pertama, menjaga diri agar jangan sampai mendhzalimi diri sendiri atau menjaga diri dari segala macam bahaya yang akan manusia hadapi ketika tidak melakukannya. Inilah kenapa misalnya taqwa biasanya diartikan dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Makna kedua adalah menjaga kesadaran dan hubungan kita dengan-Nya, baik itu lewat dzikir maupun bentuk “ibadah” lainnya, sehingga dengan terus menjaga kesadaran dan hubungan tersebut bisa menghindarkan manusia dari segala macam bahaya, baik fisik maupun spiritual. Dengan terus menjaga kesadaran berarti manusia secara hakiki telah “bangun” dan terus bisa berjalan di jalan-Nya yang tegak, lurus dan mengantarkan manusia menuju-Nya (shirathal mustaqim).

Jangan Membuat Tandingan Bagi Allah!
Dengan nikmat yang telah diberikan dan disediakan oleh Allah, baik yang berupa potensi diri maupun semua prasarana yang ada di luar diri manusia, maka Allah melarang manusia untuk membuat tandingan bagi-Nya. Dengan kata lain Allah melarang manusia untuk mengabdikan dirinya kepada selain-Nya. Karena hal tersebut merupakan sebuah ketidakpatutan, dan hal yang paling hakiki adalah karena memang tidak ada siapa dan sesuatu pun yang bisa menyamai-Nya dan layak dijadikan tempat menujukan sebuah hakikat pengabdian
Dianggap sebuah ketidakpatutan karena alahkah tidak etisnya kita apabila kita mencintai, mengabdi, dan memuji kepada makhluk Allah bahkan menjadikannya sebagai tandingan bagi Allah sementara kita hidup di bumi-Nya dan bisa menjalani kehidupan dengan baik dan maksimal dikarenakan prasarana dari-Nya. Bukankah itu sebuah kondisi “tidak” tahu berterima kasih dan membalas budi.
Selain itu, yang namanya tandingan adalah untuk dua hal yang memiliki kualitas yang sama, atau paling tidak mendekati. Kalau manusia mengetahui bahwa Allah Sang Pencipta sangat jauh kualitasnya dengan yang diciptakan, maka larangan untuk mencari tandingan bagi Allah menjadi relevan. Bukankah Allah sendiri telah menegaskan bahwa : “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya”. (Al-Ikhlas 112 : 4). Ibn Mas`ud berkata, ‘Saya bertanya, 'Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar di sisi Allah? Nabi bersabda, 'Kamu menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang telah menciptakanmu. "' (HR Bukhari dan Muslim). Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda, “Tahukah kalian apa yang menjadi hak Allah sebagai kewajiban atas hamba-Nya? Yaitu, hendaklah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun”.

Semua Dari-Nya dan akan Kembali Kepada-Nya
Adapun untuk pertanyaan kemanakah sesungguhnya kita akan pergi, sesungguhnya pertanyaan ini merupakan pertanyaan Allah kepada Nabi Ibrahim dan diabadikan dalam surat At-Takwir 81 ayat 26, Fa aina tadzhabuun, kemanakah kamu akan pergi (menuju)? dijawab oleh Nabi Ibrahim dengan : ”wa qaala inniy dzaahibun ilaa rabbiy sayahdiini, Dan dia berkata, sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (Ash-Shaffat 37 : 99). Jadi sejatinya kita ini menuju satu tujuan yaitu menghampiri Ilahi, Rabb yang telah menciptakan, mendidik, dan menyempurnakan serta menyediakan segala sarana buat manusia untuk sampainya sebuah tujuan.
Kenapa tujuan hakiki manusia adalah menghampiri Rabb? Karena manusia sejatinya adalah makhluk yang sudah mempunyai perjanjian primordial dengan Allah di alam arwah (ruh), sebelum lahir ke dunia ini, bahwa mereka mengakui dan bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan dan satu-satunya obyek di mana semua tujuan dan niat harus ditujukan. Sebagaimana di sebutkan dalam surat Al-A`raf 7: 172 : “Dan ingatlah ketika Tuhanmu menjadikan keturunan Adam dari tulang punggung mereka, dan Allah menganbil kesaksian atas diri mereka : Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: betul, kami menjadi saksi (bersyahadah). Yang demikian supaya kalian tidak mengatakan di hari kiamat, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lalai tentang hal ini”.
Manusia lahir ke dunia ini sesungguhnya membawa perjanjian primordial di atas. Bagi Yasien Muhamed, dalam bukunya Konsep Fitrah Dalam Islam, mengatakan bahwa setiap bayi yang lahir sesungguhnya membawa fitrah[2] untuk berserah diri kepada Allah (Islam).[3] Potensi fitrah ini bagaikan benih, yang berkembang dan tidaknya tergantung pada kita. Kalau ia kita sirami dengan keimanan dan amal saleh serta kita beri ruang untuk mengeluarkan sinarnya, maka fitrah ini akan berkembang baik dan cahaya sinarnya akan menuntun kita tetap di rel yang lurus (shirathal mustaqim). Dan sebaliknya, apabila benih fitrah ini, kita kotori dan tidak kita beri ruang untuk berkembang dengan kelalaian, kemaksiatan, kedurhakaan dan kemunafikan serta kemusyrikan kita, maka dia akan tidak berfungsi, susah menerima kebenaran, dan bahkan mati.[4]
Selanjutnya, karena manusia terlanjur bersyahadah bahwa Allah-lah satu-satunya Tuhan mereka, maka sebagai konsekwensinya manusia wajib menjadikan Allah satu-satunya sembahan, tempat meminta pertolongan, dan tujuan bagi semua aktivitasnya. Bukankah dalam setiap salat, kita berikrar bahwa hanya kepada-Nya kita menyembah dan memohon pertolongan (Al-Fatihah 1:5). Artinya kita dilarang mencari tuhan-tuhan lain seperti hawa nafsu, harta, jabatan, wanita, pekerjaan dan lain-lain selain Allah ( Al-Furqon 25: 43; Al-Jaatsiyah 45: 23). Sebab, kalau di dunia ini manusia menjadikan selain Allah sebagai tuhan, lebih mementingkan dan mengabdi kepada yang selain Allah, maka selain melanggar dan bertentangan dengan syahadah mereka, pada hakikatnya mengingkari fitrahnya sendiri. Dan apa yang terjadi kemudian? Mereka akan mengalami kegelisahan, keterasingan, ketidaktentraman, karena fitrahnya tidak menemukan tempat sejatinya, yaitu kepasrahan kepada Allah.[5] Dan yang paling kita takutkan adalah akibatnya nanti di akhirat, karena mereka termasuk orang-orang yang paling menyesal karena di sana sudah tidak ada alasan lagi untuk mengatakan, innaa kunna `an hadzaa ghaafiliin, sesungguhnya kami lalai akan perjanjian primordial tersebut . Naudzu billaah min dzaalik (kita berlindung kepada Allah dari keadaan yang seperti ini).
Setelah tahu tujuan sejati kita, maka hal selanjutnya yang mesti dilakukan adalah meniatkan segala aktivitas kita hanya semata-mata untuk menuju kepada-Nya, dan tidak kepada selain-Nya. Inilah yang dinamakan Ikhlas. Ibn `Athaillah mengatakan dalam kitab al-Hikamnya : ”Amal itu kerangka yang mati, dan ruhnya adalah keikhlasan yang ada padanya”. Amal adalah jelmaan lahiriyah dari niat dan keinginan. Pengalaman lahiriyah adalah cerminan dari hakikat dan keadaan batin.
Dengan ”keikhlasan” berarti manusia telah memurnikan Allah dan juga memurnikan dirinya sendiri seperti ketika mereka baru dilahirkan dalam kondisi fitri. Kondisi fitri inilah hakikat diri manusia dan syarat manusia bisa menghampiri-Nya. Berawal dari fitri dan berakhir bersama Allah dalam fitri. Itulah makna Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`un, sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kita semua kembali kepada-Nya. (Al-Baqarah 2 : 156 ). SEMOGA
WALLAHU A`LAM BISH SHAWAB



[1] Rasulullah bersabda : “Khair al-nass anfa`uhum linnas”, Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
[2] Yasien Muhamed mengartikan fitrah sebagai kecenderungan alamiah bawaan yang tidak bisa berubah, yaitu kecenderungan kepada tindakan yang benar dan ketundukan kapada Allah yang Maha Esa. Rasulullah bersabda bahwa setiap bayi yang lahir dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anaknya Yahudi, Nasrani ataupun majusi (menyembah api). Lihat Yasien Muhamed, Konsep Fitrah Dalam Islam, Terj., Mizan, Bandung, Cet. I, 1997, hal. 17
[3] Kata Islam di sini menunjukan pada pengertian sikap tunduk dan pasrah total hanya kepada kemurnian, kesucian dan kebenaran, yang di atas segalanya ialah tunduk dan pasrah total kepada Tuhan yang Maha Esa. Potensi fitrah inilah yang disebutkan dalam Surat Ar Rum 30: 30.
[4] Al-Ghazali mengatakan bahwa setiap kita melakukan perbuatan dosa, kita sesungguhnya menambahkan satu titik hitam dalam hati kita. Dan semakin sering kita berbuat maksiat maka hati kita, yang merupakan rumah Allah, akan semakin hitam dan pekat dan sinar tidak bisa keluar untuk membimbing fitrah kita untuk memenuhi perjanjian primordialnya.
[5] Itulah kenapa kita sering menyaksikan betapa banyak orang yang secara materi berkecukupan dan punya jabatan yang tinggi tetapi tetap tidak merasakan kebahagiaan yang sejati. Karena mereka hanya memenuhi kebutuhan ragawinya, sementara kebutuhan ruhani dan spiritualnyanya terabaikan. Karena penderitaan mereka sebenarya adalah penderitaan batin atau krisis keruhanian.

No comments: